Penerima Zakat

MUSTAHIQ ( yang berhak menerima Zakat )


Fakir dan Miskin

Mereka adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang mencukupi mereka. Ukuran orang itu cukup adalah ukuran yang lebih dari kebutuhan pokoknya bersama istri dan anaknya berupa makan, minum, pakaian, tempat tidur dan perkara primer lainnya. Barang siapa yang tidak bisa mencukupi ukuran ini maka ia adalah faqir, dalam hadits Muadz: “(Zakat) diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang faqir”, hadits ini menerangkan yang diambil zakatnya adalah orang kaya yakni yang memiliki harta sampai nishab zakat, adapun orang yang diberi adalah orang faqir yaitu yang tidak memiliki harta semisal orang kaya.

Selengkapnya https://salafy.or.id/orang-orang-yang-berhak-menerima-zakat-maal

Miskin

Sebagian ulama ada yang beranggapan bahwa fakir dan miskin adalah sama, padahal keduanya berbeda. Namun, ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam membedakan keduanya. Ada yang berpendapat bahwa orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin, ada pula yang berpendapat sebaliknya. Yang rajih, orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin. Orang miskin adalah orang yang punya harta/penghasilan, namun tidak mencukupinya, sedangkan orang fakir tidak punya harta/penghasilan sama sekali. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i serta jumhur ahli hadits dan ahli fiqih.” Ini pula pendapat Ibnu Hazm azh-Zhahiri.

Perlu diketahui bahwa delapan golongan tersebut terbagi menjadi dua kelompok, kelompok yang menggunakan huruf lam (اللَّامُ) dan kelompok yang menggunakan huruf fi (فِي).
Kelompok yang menggunakan huruf lam adalah:
“Untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil (petugas) zakat, dan para muallaf yang dibujuk kalbunya.”
Huruf ini bermakna kepemilikan. Artinya, zakat itu diberikan kepada golongan-golongan tersebut untuk dimiliki oleh mereka. Berdasarkan hal ini, zakat tersebut harus diberikan kepada mereka untuk dimiliki oleh mereka sendiri. Setelahnya, terserah pemiliknya masing-masing dalam memanfaatkan harta tersebut untuk kepentingan dan maslahat dirinya, apakah untuk kebutuhan makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, melunasi utang, atau hajat lainnya. Seandainya seorang fakir-miskin yang telah diberi zakat tiba-tiba mendapat warisan dalam jumlah besar dan menjadi kaya karenanya, zakat yang telah diterimanya tetap menjadi miliknya. Dia tidak dituntut mengembalikannya.
Kelompok yang menggunakan huruf fi adalah:
“Untuk (pemerdekaan) budak, untuk pelunasan utang orang-orang yang berutang, untuk jihad, dan untuk kepentingan musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan.”
Huruf ini bermakna zharfiyah (ruang lingkup). Artinya, zakat itu disalurkan dalam ruang lingkup kepentingan golongan-golongan tersebut, bukan dimiliki oleh mereka untuk digunakan secara bebas dalam memenuhi seluruh hajat dan maslahat yang diinginkannya. Zakat itu digunakan secara terbatas dalam ruang lingkup kepentingan yang menjadi alasan zakat itu diberikan. Atas dasar ini, Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/229, 234–235) menyatakan bahwa zakat tersebut tidak harus diserahkan langsung ke tangan mereka, namun bisa disalurkan untuk kepentingan yang bersangkutan tanpa melalui tangannya.

Rinciannya https://asysyariah.com/golongan-yang-berhak-menerima-zakat/

Doa penerima zakat kepada muzakki

Dari Abdullah bin Abi Aufa z, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ   إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ، قَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ. فَأَتَاهُ أَبِي -أَبُو أَوْفَى- بِصَدَقَتِهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
Apabila satu kaum mendatangi Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan zakatnya, beliau berdoa, “Ya Allah, berilah ampunan kepada mereka.” Hingga datanglah ayahku—Abu Aufa—membawa zakat, Rasulullah Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam pun berdoa, “Ya Allah, berilah ampunan kepada Abu Aufa.” ( HR Bukhori Muslim )

Rinciannya https://asysyariah.com/doa-untuk-pembayar-zakat/

ZAKAT MAAL DIGUNAKAN UNTUK MAKSIAT

Kami tidak ridha jika zakat maal yang kami berikan digunakan untuk kemaksiatan, seperti digunakan untuk melunasi utang ribawi (utang bank) atau yang semisalnya, karena para ulama telah menasehatinya

 

Kasus salah orang

Apabia Anda menerima pemberian zakat (misalkan berupa uang), dan Anda dengan yakin merasa bukan sebagai yang berhak menerima disebabkan dalil yang disebutkan, maka Anda dapat mengembalikannya kepada pemberi atau mengalihkan kepada yang benar benar berhak dan menginformasikan kepada pemberi, bahwa saat ini Anda bukan termasuk yang berhak (karena perubahan status miskin ke kaya, kaya ke miskin dapat berubah sesuai kondisi dengan cepat). Wallohu a’lam

 

Semoga bermanfaat. Baarokallohufiikum

(Visited 15 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *